Cintai Alam, Banjirpun Hilang

February 5th, 2007
  • from ‘BabaFlash’Full


Alam ini hidup, ia bisa marah kalau
disakiti. Alam ini punya perasaan, ia
bisa membalas kalau dirusak. Manusia
sudah melakukan hal itu, alam hanya
merespon untuk mencari keseimbangannya
dengan terjadinya bencana alam ini.
Dengan kata lain, manusialah yang
bertanggung jawab, kita lah yang bersalah.

Pembangunan yang membabibuta di Jakarta
(Kota) membuat kita tidak peka lagi sama
alam. Mata kita sudah asing, perasaan
kita sudah mati terhadap pepohonan, air
yang gemericik di sungai, hembusan angin
sepoi-sepoi, kicauan burung dan gesekan
pohon-pohon bambu. Semua itu sudah
direnggut oleh bangungan-bangungan
modern yang kita tempati setiap hari.

Pikiran kita sudah dikuasai oleh budaya
instan dan modern yang datang dari luar.
Dengan kata lain, kita sudah kehilangan
jati diri, yang berarti juga kehilangan
akal sehat.

Dan mudah-mudahan banjir kali ini bisa
mengembalikan akal sehat kita sebelum
bencana-bencana yang lebih besar lagi
menenggelamkan kota Jakarta atau bahkan
seluruh dunia.
Cintailah Alam sekitar.
Mari kita bersama-sama mengembalikan
Alam seperti sediakala.

AKU CINTA BUMI, CINTA LANGIT, AKU
MENCINTAI AIR, API, ANGIN, TANAH DAN
RUANG ANGKASA. DAMAILAH SEMUANYA,
DAMAILAH MAKHLUK-MAKHLUK SEDUNIA DAN
SEALAM,DAMAILAH DIRIKU.